Diabetes tipe 2 dan hipertensi selama bertahun-tahun dikenal sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Namun tren yang berkembang satu dekade terakhir menunjukkan gambaran berbeda: kedua penyakit tidak menular ini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan pada mereka yang baru berusia 20-an dan 30-an. Perubahan pola makan, minimnya aktivitas fisik, serta tekanan pekerjaan yang mendorong gaya hidup serba cepat menjadi latar belakang pergeseran tersebut.
Angka yang Terus Menanjak
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 34,1 persen pada 2018, naik dari 25,8 persen pada 2013. Artinya, sekitar satu dari tiga orang dewasa Indonesia hidup dengan tekanan darah tinggi. Pada periode yang sama, prevalensi diabetes melitus berdasarkan diagnosis dokter meningkat dari 1,5 persen menjadi 2 persen, sementara berdasarkan pemeriksaan gula darah angkanya jauh lebih tinggi, yakni 8,5 persen.
Gambaran global juga tidak lebih baik. International Diabetes Federation (IDF) dalam Diabetes Atlas edisi 2021 menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak, sekitar 19,5 juta orang pada kelompok usia 20-79 tahun, dan diproyeksikan menembus 28 juta pada 2045. Yang mengkhawatirkan, IDF memperkirakan lebih dari separuh penyandang diabetes di Indonesia belum terdiagnosis.
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui data Survei Sosial Ekonomi Nasional mencatat bahwa pola konsumsi masyarakat kian bergeser ke makanan dan minuman jadi, termasuk minuman berpemanis. Pergeseran ini sejalan dengan temuan Kementerian Kesehatan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi gula, garam, dan lemak melebihi anjuran harian, yaitu maksimal 50 gram gula, 2.000 miligram natrium (setara satu sendok teh garam), dan 67 gram lemak per hari.
Faktor Risiko yang Bisa dan Tidak Bisa Diubah
Faktor risiko kedua penyakit ini umumnya dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, faktor yang tidak bisa diubah, seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Seseorang dengan orang tua atau saudara kandung penyandang diabetes memiliki kerentanan lebih tinggi, meski risiko tersebut tidak bersifat mutlak.
Kedua, faktor yang bisa dikendalikan, dan justru di sinilah ruang pencegahan terbesar berada:
- Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, terutama dari makanan ultraproses dan minuman berpemanis dalam kemasan.
- Kurang aktivitas fisik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan minimal 150-300 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu bagi orang dewasa.
- Kelebihan berat badan dan obesitas, khususnya obesitas sentral yang ditandai lingkar perut lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan 80 sentimeter pada perempuan.
- Merokok dan konsumsi alkohol.
- Stres kronis dan kurang tidur, yang memengaruhi hormon pengatur nafsu makan dan tekanan darah.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) dalam pedoman pengelolaan diabetes tipe 2 menekankan bahwa resistensi insulin, kondisi yang mendahului diabetes, dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa keluhan. Pada tahap prediabetes, kadar gula darah sudah di atas normal tetapi belum memenuhi kriteria diabetes—dan tahap ini masih reversibel dengan intervensi gaya hidup.
Mengapa Disebut Silent Killer
Hipertensi dan diabetes sering dijuluki silent killer karena keduanya jarang menimbulkan gejala khas pada tahap awal. Banyak penderita hipertensi tidak merasakan apa pun sampai muncul komplikasi berupa stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal. Pada diabetes, gejala klasik seperti sering haus, sering berkemih, dan penurunan berat badan tanpa sebab kadang baru dirasakan ketika kadar gula darah sudah sangat tinggi.
Kementerian Kesehatan menyebut hanya sekitar sepertiga penderita hipertensi di Indonesia yang mengetahui kondisinya, dan proporsi yang menjalani pengobatan teratur lebih kecil lagi. Konsekuensinya terasa pada sistem kesehatan. BPJS Kesehatan secara konsisten melaporkan bahwa penyakit katastropik—jantung, stroke, gagal ginjal, dan kanker—menyerap porsi terbesar biaya pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional, dengan nilai mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Sebagian besar penyakit tersebut berakar pada hipertensi dan diabetes yang tidak terkendali.
Skrining Dini: Murah di Depan, Mahal jika Ditunda
Para praktisi kesehatan masyarakat menekankan bahwa pemeriksaan rutin tetap perlu dilakukan meski seseorang merasa sehat. Pengukuran tekanan darah, gula darah, lingkar perut, dan indeks massa tubuh tersedia di Puskesmas maupun Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular yang tersebar di banyak kelurahan dan desa. Program Skrining Riwayat Kesehatan dari BPJS Kesehatan juga memungkinkan peserta melakukan penilaian risiko secara daring setiap tahun.
WHO merekomendasikan pendekatan berbasis populasi melalui paket intervensi PEN (Package of Essential Noncommunicable Disease Interventions) di layanan primer, dengan logika bahwa deteksi dini jauh lebih murah dibandingkan pembiayaan komplikasi seperti cuci darah atau operasi jantung.
Perubahan Kecil, Dampak Terukur
Bukti ilmiah mengenai efektivitas perubahan gaya hidup cukup kuat. Studi Diabetes Prevention Program yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa intervensi gaya hidup intensif—penurunan berat badan sekitar 7 persen dan aktivitas fisik 150 menit per minggu—menurunkan risiko berkembangnya diabetes tipe 2 hingga 58 persen pada kelompok prediabetes, lebih baik daripada pemberian obat metformin. Untuk hipertensi, pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) yang menekankan sayur, buah, biji-bijian utuh, dan pembatasan natrium terbukti menurunkan tekanan darah sistolik beberapa milimeter merkuri—penurunan yang secara populasi berarti pengurangan risiko stroke signifikan.
Langkah praktis yang bisa dimulai sejak usia muda antara lain mengurangi minuman berpemanis, memperbanyak sayur dan buah, memilih tangga ketimbang lift, berjalan cepat 30 menit sehari, tidak merokok, tidur cukup, serta memeriksa tekanan darah minimal sekali setahun. Bagi mereka dengan riwayat keluarga diabetes, pemeriksaan gula darah sebaiknya dilakukan lebih dini dan lebih rutin.
Pada akhirnya, pergeseran usia penderita diabetes dan hipertensi bukan hanya persoalan medis individu, melainkan cermin dari lingkungan pangan dan pola kerja masyarakat modern. Kesadaran sejak usia muda—ditopang kebijakan publik seperti pelabelan gizi, cukai minuman berpemanis, dan penyediaan ruang aktivitas fisik—menjadi kunci menekan beban penyakit tidak menular pada dekade mendatang.