Setiap kali terjadi kecelakaan pesawat, kapal tenggelam, longsor, atau pendaki hilang di gunung, nama tim SAR hampir selalu muncul dalam pemberitaan. Namun tidak banyak yang memahami bagaimana sebenarnya kerja tim pencarian dan penyelamatan itu disusun, siapa yang memimpin, dan mengapa sebuah operasi bisa dihentikan atau justru diperpanjang.

SAR merupakan singkatan dari search and rescue atau pencarian dan penyelamatan. Istilah ini mengacu pada rangkaian upaya terkoordinasi untuk menemukan, menolong, dan mengevakuasi orang yang hilang, terjebak, atau berada dalam kondisi membahayakan nyawa akibat bencana, kecelakaan transportasi, maupun kondisi khusus lain.

Siapa yang Memimpin Operasi SAR di Indonesia

Di Indonesia, koordinasi operasi pencarian dan penyelamatan berada di bawah Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), yang memiliki kantor pencarian dan pertolongan di berbagai provinsi. Basarnas bertindak sebagai koordinator utama, sementara pelaksanaan di lapangan melibatkan banyak unsur.

Unsur-unsur yang biasanya bergabung dalam satu operasi antara lain:

  • TNI Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Angkatan Darat, terutama untuk dukungan kapal, helikopter, dan personel;
  • Kepolisian, termasuk satuan Brimob dan tim identifikasi korban (DVI);
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah daerah setempat;
  • Dinas pemadam kebakaran, tim medis, dan rumah sakit rujukan;
  • Organisasi relawan, komunitas pendaki, penyelam, nelayan, serta warga sekitar lokasi kejadian.

Dalam satu operasi, ditunjuk seorang koordinator misi yang memegang kendali komando. Struktur satu komando ini penting agar informasi, pembagian sektor pencarian, dan pergerakan alat berat tidak saling tumpang tindih.

Tahapan Operasi Pencarian dan Penyelamatan

Secara umum, operasi SAR berjalan melalui beberapa tahapan yang saling menyambung. Tahap pertama adalah kesadaran atau awareness stage, yaitu saat laporan musibah diterima melalui panggilan darurat, laporan keluarga, otoritas pelabuhan, atau menara pengatur lalu lintas udara.

Berikutnya adalah tahap tindak awal, ketika petugas memverifikasi laporan, mengumpulkan data terakhir korban, dan menyiapkan personel serta peralatan. Data seperti titik komunikasi terakhir, arah angin, arus laut, dan kondisi cuaca menjadi dasar penyusunan area pencarian.

Tahap perencanaan menentukan pola pencarian yang dipakai, misalnya pola sektor, pola menyisir sejajar, atau pola melebar dari titik dugaan. Setelah itu masuk tahap operasi, yakni penyisiran lapangan, penyelaman, penggunaan pesawat atau drone, hingga evakuasi korban ke fasilitas kesehatan. Operasi ditutup dengan tahap pengakhiran, ketika korban ditemukan seluruhnya atau ketika evaluasi menyimpulkan pencarian tidak lagi memberi hasil.

Di Indonesia, operasi pencarian umumnya dijalankan selama tujuh hari dan dapat diperpanjang bila muncul petunjuk baru atau atas permintaan keluarga dan pemerintah daerah. Perpanjangan ini sering menjadi sorotan publik, terutama pada kasus kecelakaan transportasi berpenumpang banyak.

Kompetensi dan Peralatan

Anggota tim SAR umumnya dibekali kemampuan pertolongan pertama, teknik vertikal atau rope rescue, penyelamatan air, navigasi darat, hingga penanganan reruntuhan bangunan. Sebagian personel juga memiliki sertifikasi penyelam dan kemampuan membaca peta batimetri.

Peralatan yang lazim digunakan meliputi kapal cepat dan kapal negara, helikopter, drone termal, alat pendeteksi bawah air seperti side scan sonar dan remotely operated vehicle, alat pendeteksi tanda kehidupan, serta unit anjing pelacak. Ketersediaan alat sangat menentukan kecepatan operasi, terutama pada perairan dalam atau medan pegunungan tanpa akses jalan.

Tantangan Geografis dan Cuaca

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, wilayah tanggung jawab pencarian dan penyelamatan Indonesia sangat luas dan beragam. Operasi di laut lepas menghadapi arus kuat dan gelombang tinggi, sementara pencarian di gunung dan hutan berhadapan dengan kabut, tebing, serta keterbatasan sinyal komunikasi.

Faktor waktu juga krusial. Dalam banyak kasus bencana, peluang korban ditemukan hidup menurun tajam setelah beberapa hari pertama, sehingga kecepatan mobilisasi menjadi penentu. Kondisi cuaca ekstrem kerap memaksa tim menghentikan sementara penyisiran demi keselamatan personel sendiri.

Peran Relawan dan Masyarakat

Relawan dari organisasi kemanusiaan dan komunitas lokal memiliki peran besar, terutama karena mereka mengenal medan dan bisa bergerak lebih dulu sebelum tim resmi tiba. Meski demikian, koordinasi tetap diperlukan agar relawan tidak menjadi korban tambahan atau merusak jejak di lokasi kejadian.

Masyarakat dapat membantu operasi pencarian dan penyelamatan dengan beberapa langkah sederhana:

  • segera melaporkan musibah ke saluran darurat resmi dengan data lokasi sejelas mungkin;
  • tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai jumlah atau kondisi korban;
  • menjaga jalur akses tetap lapang agar ambulans dan alat berat bisa masuk;
  • menghindari menonton dari titik rawan yang justru menambah beban tim di lapangan.

Pemahaman publik tentang cara kerja tim SAR pada akhirnya ikut menentukan keberhasilan sebuah operasi. Semakin akurat informasi awal yang diterima dan semakin tertib lokasi kejadian, semakin besar peluang penyelamatan berjalan cepat dan aman bagi semua pihak.