Memilih program studi adalah salah satu keputusan besar pertama yang harus diambil calon mahasiswa, dan bobotnya jauh lebih berat daripada sekadar mengisi kolom pilihan pada formulir pendaftaran. Keputusan itu menentukan empat tahun ke depan — bahkan lebih — dari waktu, biaya, dan tenaga seseorang. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit siswa yang menentukan jurusan hanya karena ikut pilihan teman, mengejar jurusan yang sedang tren di media sosial, atau semata memenuhi harapan orang tua.

Skala persoalannya tidak kecil. Riset yang dilakukan Indonesia Career Center Network (ICCN) dan banyak dirujuk dalam diskusi pendidikan tinggi menyebutkan bahwa sekitar 87 persen mahasiswa Indonesia mengaku salah memilih jurusan. Angka itu sejalan dengan tingginya kompetisi seleksi masuk: berdasarkan data Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan (BPPP) Kemendikbudristek melalui panitia SNPMB, jumlah pendaftar UTBK-SNBT setiap tahun berada di kisaran ratusan ribu hingga menembus 780 ribu peserta, sehingga banyak siswa akhirnya memilih jurusan "yang penting lolos" alih-alih jurusan yang benar-benar dipahami.

Mulai dari peta minat dan kemampuan, bukan nama jurusan

Langkah pertama yang paling sering dilewatkan adalah memetakan secara jujur kombinasi antara minat dan kemampuan akademik. Minat memberi daya tahan saat kuliah terasa membosankan, sementara kemampuan dasar menentukan seberapa cepat seseorang bisa mengikuti materi. Seseorang yang tertarik pada dunia kesehatan tetapi kesulitan pada kimia dan biologi dasar, misalnya, perlu mempertimbangkan apakah jalur yang tepat adalah kedokteran, kesehatan masyarakat, administrasi rumah sakit, atau teknologi laboratorium medis. Ketiga pilihan terakhir tetap berada di ekosistem kesehatan dengan beban mata kuliah eksakta yang berbeda.

Banyak sekolah kini menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk asesmen minat-bakat, dan sejumlah kampus membuka tes penelusuran minat gratis melalui pusat karier. Hasil tes semacam itu sebaiknya diperlakukan sebagai bahan diskusi, bukan putusan final. Yang lebih penting adalah menguji minat itu secara nyata: mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, lomba, kursus daring pendek, atau magang singkat di bidang yang diincar.

Baca kurikulum, jangan hanya nama jurusannya

Nama program studi sering menipu. "Ilmu Komunikasi" tidak selalu berarti belajar public speaking sepanjang semester; di banyak kampus jurusan ini memuat metode penelitian sosial dan statistik. "Teknik Industri" bukan sekadar mengelola pabrik, melainkan berisi matematika optimasi dan riset operasi. Sebaliknya, jurusan yang terdengar kurang populer seperti Statistika atau Teknik Geodesi justru memiliki kurikulum yang sangat aplikatif.

Karena itu, calon mahasiswa disarankan membuka dokumen kurikulum resmi yang biasanya diunggah di situs fakultas, lalu memeriksa daftar mata kuliah semester per semester. Beberapa hal yang layak dicek:

  • Mata kuliah wajib pada dua semester pertama, karena di sanalah banyak mahasiswa gugur atau kehilangan motivasi.
  • Proporsi mata kuliah praktik, praktikum, atau studio dibandingkan mata kuliah teori.
  • Ketersediaan konsentrasi atau peminatan di semester atas.
  • Status akreditasi program studi, yang bisa diverifikasi melalui laman BAN-PT atau lembaga akreditasi mandiri.
  • Data dosen dan mahasiswa di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Kemendikbudristek, untuk melihat rasio dosen-mahasiswa.

Prospek karier: penting, tetapi bukan satu-satunya

Prospek kerja layak dipertimbangkan, terutama bagi keluarga yang membiayai kuliah dengan usaha besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka lulusan pendidikan tinggi tetap ada di kisaran satu digit dan relatif lebih rendah dibanding lulusan SMA/SMK, tetapi angka itu bervariasi antarbidang. BPS juga mencatat sektor perdagangan, industri pengolahan, jasa keuangan, dan informasi-komunikasi sebagai penyerap tenaga kerja formal yang signifikan — informasi yang bisa dipakai sebagai konteks, bukan ramalan pasti.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan tren lowongan hari ini sebagai satu-satunya dasar. Dunia kerja berubah cepat; laporan-laporan ketenagakerjaan global secara konsisten memperkirakan sebagian besar pekerjaan akan menuntut keterampilan baru dalam lima tahun ke depan, terutama karena otomatisasi dan kecerdasan artifisial. Yang lebih tahan perubahan adalah kemampuan lintas bidang: menulis dan menyusun argumen, mengolah data, bekerja dalam tim, serta belajar mandiri.

Cari sumber informasi yang bisa diuji

Deskripsi resmi kampus umumnya bersifat promosi. Untuk gambaran yang lebih realistis, calon mahasiswa sebaiknya berbicara langsung dengan mahasiswa aktif dan alumni — soal beban tugas, kualitas laboratorium, peluang magang, hingga rata-rata lama studi. Banyak kampus juga menggelar sesi konsultasi jurusan, kuliah terbuka, atau open house yang bisa diikuti gratis, serta memiliki tracer study tahunan yang memuat data masa tunggu kerja lulusan. Tracer study inilah salah satu dokumen paling berguna yang jarang dibaca calon mahasiswa.

Diskusi dengan orang tua juga tetap penting. Alih-alih berdebat soal gengsi jurusan, percakapan bisa diarahkan pada data konkret: kurikulum, biaya kuliah per semester, ketersediaan beasiswa seperti KIP Kuliah, dan peta karier lulusan.

Pilihan jurusan bukan pintu satu arah

Hal terakhir yang perlu ditekankan: keputusan ini tidak bersifat permanen. Kebijakan pendidikan tinggi Indonesia beberapa tahun terakhir, termasuk program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan ketentuan dalam Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang penjaminan mutu pendidikan tinggi, membuka ruang lebih lebar bagi mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar program studi, magang bersertifikat, hingga pindah jalur pada kondisi tertentu.

Banyak profesional hari ini bekerja di bidang yang tidak sepenuhnya linier dengan ijazahnya. Karena itu, kekhawatiran berlebihan bahwa satu pilihan akan mengunci seluruh masa depan justru bisa membuat calon mahasiswa lumpuh mengambil keputusan. Yang paling realistis adalah memilih dengan informasi sebaik mungkin, lalu bersiap menyesuaikan arah di tengah jalan bila memang diperlukan.

Rujukan Resmi Terkait