Sekolah semestinya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar dan bertumbuh, namun kasus perundungan masih kerap ditemukan di berbagai jenjang pendidikan. Konsep sekolah ramah anak mengedepankan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, baik fisik, verbal, maupun psikis, sebagai syarat dasar sebelum bicara soal prestasi akademik.
Perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik yang mudah terlihat. Ejekan berulang, pengucilan dari pergaulan, hingga perundungan siber lewat media sosial sama-sama berpotensi meninggalkan dampak psikologis jangka panjang, mulai dari menurunnya rasa percaya diri hingga keengganan anak untuk pergi ke sekolah.
Guru memiliki peran penting dalam mendeteksi tanda-tanda dini, baik pada anak yang menjadi korban maupun yang berpotensi menjadi pelaku. Perubahan perilaku mendadak, seperti anak yang tiba-tiba menarik diri dari pergaulan atau nilai akademiknya menurun drastis, sering kali menjadi sinyal awal yang perlu ditindaklanjuti, bukan diabaikan.
Sejumlah sekolah mulai membentuk tim khusus penanganan perundungan lengkap dengan mekanisme pelaporan yang jelas, sehingga siswa maupun orang tua memiliki jalur resmi untuk melapor tanpa takut stigma. Keberadaan kebijakan tertulis juga membantu memastikan penanganan kasus dilakukan secara konsisten, bukan tergantung kebijakan masing-masing guru.
Di rumah, orang tua berperan penting lewat komunikasi terbuka dengan anak tentang pengalamannya di sekolah. Sikap yang menormalisasi perundungan sebagai hal biasa dalam masa kanak-kanak justru berisiko membuat anak enggan bercerita saat benar-benar mengalaminya, sehingga penanganan menjadi terlambat.