Pendidikan karakter kerap dianggap sebagai pelengkap dari mata pelajaran akademik, padahal perannya jauh lebih mendasar. Pada usia sekolah dasar, anak berada di fase paling plastis dalam pembentukan kebiasaan, nilai, dan cara mereka memandang diri sendiri maupun orang lain. Kebiasaan jujur, disiplin, dan empati yang ditanamkan pada masa ini cenderung terbawa hingga dewasa.
Kurikulum pendidikan karakter biasanya mencakup nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan rasa hormat terhadap perbedaan. Nilai-nilai ini tidak diajarkan lewat hafalan, melainkan lewat kebiasaan sehari-hari di kelas: membiasakan antre, meminta maaf saat salah, atau menyelesaikan tugas kelompok bersama teman yang berbeda latar belakang.
Guru memegang peran sentral karena anak-anak usia SD cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Konsistensi antara apa yang diajarkan dan bagaimana guru bersikap di depan kelas menjadi faktor penentu apakah nilai karakter benar-benar tertanam atau hanya menjadi slogan di dinding kelas.
Peran keluarga sama pentingnya. Sekolah hanya menyediakan sebagian waktu anak dalam sehari, sehingga penguatan nilai karakter di rumah — misalnya lewat rutinitas kecil seperti membereskan mainan sendiri atau berbicara sopan kepada anggota keluarga — akan memperkuat apa yang diajarkan di sekolah.
Sejumlah sekolah mulai mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam proyek lintas mata pelajaran, bukan sebagai jam pelajaran terpisah. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena anak belajar mempraktikkan nilai secara kontekstual, misalnya lewat proyek lingkungan yang sekaligus mengajarkan tanggung jawab dan kerja sama tim.