Ada pemandangan yang hampir selalu sama di kelas mana pun: seorang siswa berdiri di depan papan tulis, memegang kertas dengan kedua tangan, membaca kalimat pertama dengan suara nyaris tak terdengar, lalu berhenti. Beberapa detik kemudian ada yang tertawa di bangku belakang, dan sisa presentasi berjalan dengan mata yang tidak pernah lepas dari kertas. Banyak orang menyimpulkan anak itu "memang tidak berbakat bicara di depan umum". Padahal yang baru saja terjadi bukan soal bakat, melainkan soal pengalaman pertama yang buruk dan tidak pernah diperbaiki.
Yang sebenarnya terjadi saat siswa grogi
Rasa takut tampil jarang muncul karena siswa tidak menguasai materi. Justru sebaliknya, banyak siswa hafal isi tugasnya sampai detail. Masalahnya ada pada strategi yang dipilih: menghafal teks kata per kata. Ketika satu kalimat terlewat, seluruh urutan hafalan ikut runtuh, dan otak tidak punya cadangan untuk melanjutkan dengan kalimat sendiri. Jeda itulah yang memicu panik, bukan ketidaktahuan.
Setelah jeda terjadi, reaksi kelas menentukan segalanya. Satu tawa kecil atau komentar guru yang terdengar seperti sindiran akan tersimpan sebagai bukti bahwa berbicara di depan orang itu berbahaya. Di kesempatan berikutnya, siswa yang sama akan lebih dulu menolak: menyerahkan tugas presentasi ke teman kelompok, meminta izin ke toilet saat namanya dipanggil, atau memilih membuat poster daripada bicara. Kemampuan berbicara tidak berkembang bukan karena kesempatan tidak ada, tetapi karena siswa belajar menghindarinya secara sistematis.
Kurikulum sudah menyediakan ruangnya
Secara aturan, latihan berbicara bukan kegiatan tambahan. Dalam Capaian Pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia yang ditetapkan Kemendikbudristek, "berbicara dan mempresentasikan" berdiri sebagai elemen tersendiri, sejajar dengan menyimak, membaca, dan menulis. Artinya, kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan memang harus dinilai dan dilatih, bukan sekadar muncul saat ada tugas kelompok.
Kurikulum Merdeka, yang kerangkanya diatur melalui Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, juga memberi ruang lebih besar lewat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam P5, siswa dituntut mempresentasikan proses dan hasil projeknya, termasuk dalam gelar karya yang dihadiri orang tua atau warga sekolah. Format ini punya kelebihan yang sering tidak disadari guru: siswa berbicara tentang sesuatu yang ia kerjakan sendiri, sehingga tidak ada teks yang perlu dihafal. Ketika lupa, ia masih bisa melanjutkan karena benar-benar tahu apa yang dilakukannya selama berminggu-minggu.
Tangga latihan, bukan lompatan ke podium
Kesalahan umum di sekolah adalah menjadikan lomba pidato atau presentasi 15 menit sebagai pintu masuk pertama. Bagi siswa yang belum pernah bicara di depan kelas, itu lompatan yang terlalu jauh. Pembiasaan lebih efektif jika dinaikkan bertahap dari beban yang hampir tidak terasa.
- Tahap awal: menjawab satu pertanyaan guru sambil tetap duduk, cukup dua sampai tiga kalimat, tanpa dinilai.
- Tahap kedua: berbicara 30–60 detik dari tempat duduk, misalnya menceritakan ulang satu bagian buku yang baru dibaca atau menjelaskan satu langkah pengerjaan soal.
- Tahap ketiga: berdiri di depan kelompok kecil berisi empat sampai lima teman, bukan di depan seluruh kelas.
- Tahap keempat: menjelaskan hasil kerja kelompok di depan kelas, dengan catatan berupa poin-poin kata kunci, bukan teks penuh.
- Tahap kelima: presentasi mandiri yang menyertakan sesi tanya jawab singkat.
Perbedaan pokok antara tahap keempat dan pola lama terletak pada catatan. Membiasakan siswa membawa lima kata kunci alih-alih naskah penuh memaksa mereka menyusun kalimat secara spontan. Awalnya lebih terbata, tetapi justru di situ kemampuan bicara terbentuk, karena siswa berlatih memilih kata, bukan mengingat kata.
Peran guru: memisahkan koreksi isi dari penilaian diri
Umpan balik menentukan apakah latihan berbuah keberanian atau ketakutan. Komentar seperti "kamu kurang percaya diri" tidak bisa ditindaklanjuti siswa karena menyerang diri, bukan perilaku. Umpan balik yang bisa dikerjakan berbunyi spesifik: "tadi bagian datanya kuat, coba lain kali sebut angkanya lebih lambat" atau "berhenti sebentar di akhir setiap poin". Prinsip ini sejalan dengan penekanan asesmen formatif dalam Kurikulum Merdeka, yaitu penilaian sebagai alat perbaikan proses, bukan penghakiman hasil akhir.
Guru juga punya dasar hukum untuk menertibkan reaksi kelas. Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan secara tegas memasukkan kekerasan verbal, termasuk mengejek dan merendahkan, sebagai bentuk kekerasan yang wajib dicegah sekolah. Menertawakan teman yang tersendat saat presentasi bukan sekadar keramaian kelas; itu masuk wilayah yang harus ditangani. Kesepakatan kelas sederhana, misalnya larangan berkomentar sebelum pembicara selesai, sering lebih menentukan keberanian siswa daripada jumlah jam pelajaran retorika.
Jalur lanjutan bagi yang ingin serius
Untuk siswa yang sudah nyaman berbicara, sekolah perlu menyediakan wadah yang lebih menantang. Klub debat dan teater melatih dua hal berbeda: debat mengasah struktur argumen dan kemampuan merespons bantahan secara cepat, sementara teater melatih pengendalian suara, jeda, dan bahasa tubuh. Di tingkat nasional, Kemendikbudristek melalui Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) menyelenggarakan Lomba Debat Bahasa Indonesia (LDBI) dan National Schools Debating Championship (NSDC) yang berjenjang dari seleksi tingkat kabupaten/kota hingga nasional. Di lingkungan madrasah, Kemenag juga membuka ajang serupa melalui kompetisi bidang bahasa dan riset siswa. Jalur resmi ini penting karena hasilnya terdokumentasi dan dapat menjadi portofolio prestasi, termasuk saat siswa mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi yang dikelola SNPMB.
Yang perlu diingat, ukuran keberhasilan latihan ini bukan siswa yang lancar seperti pembawa acara televisi. Indikator yang lebih realistis adalah siswa tidak lagi menolak ketika namanya dipanggil, mampu melanjutkan bicara setelah lupa, dan sanggup menjawab satu pertanyaan susulan tanpa panik. Tiga hal itu terbentuk dari puluhan kesempatan kecil di kelas biasa, bukan dari satu lomba pidato setahun sekali.